Terapi Trauma : Perjalanan dari Luka Menuju Pemulihan

Ada luka yang tidak terlihat, tapi terasa nyeri di setiap tarikan napas dan gerak. Luka yang datang tanpa diundang — dari kehilangan, penolakan, tekanan, kekerasan, kecelakaan, bencana atau pengalaman yang mengguncang hati dan rasa aman. Luka itu disebut trauma. Ia mungkin tidak tampak di luar, tapi di dalam, ia meninggalkan jejak. Terasa seperti ada duri yang tertanam di dalam daging namun tidak terlihat. Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul, sulit tidur, terbayang dan mimpi buruk yang berulang, jantung berdebar tanpa sebab, atau perasaan hampa yang sulit dijelaskan. Proses untuk mencari duri dalam daging ini bukanlah sesuatu yang mudah. Kadangkala ia tersembunyi di hati yang terdalam dan tertutup rapat. Semakin dalam dan semakin jauh ia tertanam maka semakin panjang proses yang harus dijalani. 

PAHAMI TRAUMA

Berasal dari kata Traumaticus yang artinya Luka, dimana secara psikologis, Luka diartikan sebagai suatu kondisi yang  diakibatkan oleh adanya peristiwa yang menyakitkan/melukai secara psikologis yang pernah dialami. Peristiwa yang menyebabkan luka psikologis, bisa dialami oleh seseorang yang mengalami kejadian yang menakutkan, mengancam, keterhilangan.

Trauma menurut DSM 5, APA 2013

Didefinisikan sebagai paparan terhadap kondisi saat ini atau ancaman kematian, cedera serius atau pelanggaran seksual di mana ada ketakutan yang intens, horor atau ketidakberdayaan mendominasi. tetapi juga menyaksikan peristiwa traumatis tersebut, belajar tentang peristiwa semacam itu yang terjadi pada anggota keluarga atau teman dekat, dan mengalami paparan berulang atau ekstrem terhadap detail peristiwa traumatis (APA, 2013).

 “Trauma is not the bad things that happen to you, but what happen inside you, as a result of what happens to you” Gabor Mate

Trauma suatu kondisi di dalam jiwa seseorang yang mempengaruhi kehidupan bahkan juga bisa tersimpan dalam tubuh. Rasa sakit yang dialami dalam bagian tubuh yang tidak bisa dijelaskan oleh tim medis dapat menjadi reaksi dari trauma yang tersimpan, dilupakan, atau tersisih.

Kapan dan Bagaimana Trauma bisa Terjadi?

Trauma dapat terjadi pada masa perjalanan kehidupan individu. Peristiwa trauma dapat dialami seorang individu sejak dalam kandungan, dimana ibu yang mengandung dapat mengalami peristiwa yang cukup berat menekan sehingga memiliki emosi yang negatif. Bayi dalam kandungan akan merasakan rasa cemas, takut dan marah dari ibu. Demikian juga saat bayi tersebut lahir, ia dapat mengalami trauma yang mungkin bisa dipengaruhi persoalan medis, bisingnya suara atau cahaya yang terlalu terang. Bahkan ada situasi perjalanan pada masa bayi dimana ia pernah mengalami permasalahan dengan kondisi medis berat. Misalnya ada seorang bayi dibawah 12 tahun mengalami kecemasan berhadapan dengan orang baru atau orang yang menyentuhnya. Kondisi yang membuatnya menginap di rumah sakit berhari-hari, berhadapan dengan alat suntik dan mesin-mesin yang menakutkan tanpa kehadiran orangtua. Peristiwa masa bayi yang mencekam ini membuat mereka menjadi trauma dan tidak mudah untuk berhadapan dengan orang baru termasuk saat ada orang yang ingin menyentuh bagian tubuhnya. Ia mungkin tidak menyadarinya dan tidak dapat menjelaskannya. Karena ia menangkap dengan mata dan tubuhnya. 

Masa kanak-kanak adalah masa dimana individu juga bisa mengalami situasi dan kondisi traumatik yang dapat mempengaruhi kehidupan yang maladaptif di masa dewasa. Kejadian dan potensi trauma masa kanak perlu kita telusuri sehingga dapat menjadi penghambat proses pengembangan diri kita. Penelusuran trauma masa kanak dapat diakses lewat alat ukur ACEs (Adverse Childhood Experiences). Trauma pada anak berpengaruh pada relasi, emosi, perilaku, perkembangan otak, koginis, kesehatan fisik pada saat individu telah dewasa. Misalnya ada seorang anak mengalami trauma dengan suara  keras dan menolak ke kamar mandi umum, setelah ditelusuri bermuasal saat ia merasa takut berlebih setelah kaget mendengar suara mesin pengering tangan. Raut muka langsung berubah dengan membelalakan mata menunjukkan ada rasa takut di matanya. 

Tapi perlu jadi perhatian bahwa selain ahli , seseorang tidak diperkenankan untuk memberikan penegakan diagnosa. Self Diagnose juga diharapkan tidak dilakukan karena akan memperbuk kondisi. Jika ada beberapa gejala diatas yang dirasakan, maka anda diharapkan untuk segera datang kepada ahli yang berkompeten untuk menolong memahami dan menyelesaikan trauma yang dihadapi

Dampak Trauma Psikologis

“The initial Trauma of Young Child may go underground, but it will return to haunt us” James Garbarino

Trauma seringkali menjadi suatu luka yang tidak terlihat. Hal ini dipengaruhi adanya ketidakpahaman akan mekanisme yang telah terjadi dalam diri individu. Ia akan terpendam di area bawah sadar karena tidak ada pihak yang menyadari termasuk diri sendiri. Pada akhirnya, trauma akan memberikan beberapa dampak negatif pada individu yang mengalami, diantaranya

  • Mempengaruhi Sistem Imun dan Kesehatan

Kecemasan membuat kortisol berlebih dan membuat sistem imun menjadi kolaps dan memyerang jaringan sehat sehingga menjadi gangguan auto imun, alergi, asma dan inflamasi

  • Self Harm atau menyakiti diri

Ada peristiwa yang mencetus dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman dan memiliki pemikiran untuk mencari solusi untuk mengakhiri tekanan tersebut dengan melakukan tindakan yang maladaptif.

  • Problem Relasi

Adanya trauma masa kanak mempengaruhi adanya permasalahan kelekatan (attachment) sehingga akan mempengaruhi relasi dengan diri sendiri, orang lain dan Tuhan. 

  • Performance block

Ada hambatan dalam performa. Ia tidak dapat menampilkan diri dengan potensi yang utuh karena ada pengalaman negatif yang terakumulasi di bawah sadar

  • Memunculkan adiksi

Adanya kondisi masa kanak yang traumatik (adanya peningkatan pada ACEs) akan berkolerasi terhadap perilaku adiksi/kecanduan

Cara mengatasi Trauma

Trauma adalah suatu luka yang perlu diobati. Dia juga dapat menjadi sebuah duri dalam daging yang perlu segera disingkirkan. Semakin lama luka itu dibiarkan, ia akan semakin menggerogoti tubuh dan jaringan sel yang baik. Sekalipun sakit untuk mengorek dan membersihkan luka itu, namun tindakan ini diharapkan dapat membersihkan dampak-dampak negatif yang akan menghambat pertumbuhan diri. Bagaimana caranya?

  1. Temukan

Jika kita tidak menyadari adanya trauma dalam diri, maka kita bisa temukan dengan melihat gejala yang terjadi. Dimana itu terjadi, kapan mulainya dan apa reaksi emosi kita. Kita juga bisa melakukan asesmen dengan ACEs untuk melihat potensi trauma masa kanak. JIka perlu, tanyakan pada orang-orang yang berperan di masa kanak kita dan sepanjang perjalan kehidupan kita adakah peristiwa yang membuat kita menjadi sangat emosional pada masa kanak kita. 

  1. Bicarakan dan Ungkapkan

Setelah temukan maka ungkapkan. Bicarakan dengan orang yang dipercaya, bisa juga kepada ahli yang bisa menolong untuk memulihkan. Tuliskan dalam bentuk narasi tulisan apa yang terjadi, apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan saat peristiwa itu terjadi. Gambarkan dengan mengikuti rasa yang hadir. Biarkan rasa dan pikiran mengalir lewat tulisan dan gambar. 

  1. Doakan dan Terima.

Doakan, sampaikan kepada sang pencipta apa yang dirasakan dan dipikirkan. Narasikan ucapan syukur. Tuliskan rasa terimakasih untuk apa yang telah terjadi. Cari hal-hal yang bisa memberikan makna yang membangun. Sampaikan maaf, mintakanlah maaf bagi yang telah bersalah. Lepaskan rasa marah, ketakutan yang hadir.  “Terima” bahwa kejadian itu pernah terjadi. Gambarkan harapan dan bingkai peristiwa itu dengan warna dan gambar yang menyenangkan. 

  1. Tumbuhkan kekuatan

Manusia dianugerahi Tuhan  kekuatan yang luar biasa. Setiap kondisi dan kehidupan dapat dilalui dan dijalani dengan kekuatan yang Tuhan berikan. Tinggalkan hal yang pernah terjadi dengan rasa penerimaan dan ucapan syukur, bangun kekuatan diri. Bangunan jendela toleransi (Window of Tolerance) perlu diperlebar dengan cara meningkatkan ibadah (spiritual), menyayangi diri (self care), praktik mindfulness,  jurnal kebersyukuran (gratitude journal), Teknik pernafasan, Olah raga rutin yang menyenangkan, menjalani hobi, menguatkan dukungan sosial (social support) dan terlibat dalam interaksi sosial dalam suatu komunitas

Proses yang tidak mudah dalam melangkah maju dan menghadapi trauma yang ada atau menemukannya, membutuhkan adanya dukungan dari Ahli. Jika dirasakan gejala sangat berat menekan dapat segera mencari pertolongan. Psikolog dan Psikiater akan memiliki cara yang dibutuhkan untuk mengatasi gejala traumatik yang dirasakan. Pendekatan psikiater lebih mengarah pada pendekatan medis dan psikolog dengan pendekatan psikologi. Psikiater biasanya akan menggunakan terapi medikasi untuk menyelesaikan gejala yang muncul. Terapi medikasi  yaitu terapi yang dilakukan untuk mengelola kinerja otak dan hormonal yang tidak stabil. Sedangkan Terapi Psikologi  yang bisa dilakukan dalam menghadapi trauma diantaranya

  1. CBT (Cognitive Behavior Therapy) yaitu proses terapi yang mengubah pikiran negatif dan pola perilaku akibat trauma
  2. Brainspotting Therapy merupakan terapi yang mendasarkan pada kerja otak-tubuh (Brain-body based) untuk memproses trauma dengan menggunakan titik yang dilihat oleh mata. Menyembuhkan “part” dalam diri yang terluka. 
  3. Forgiveness therapy. Klien ditemani untuk memiliki kekuatan dalam memaafkan diri, peristiwa, situasi dan orang yang memicu kondisi traumatik.
  4. Art Therapy. Terapi seni yang dilakukan dengan memproses ekspresi perasaan tidak sadar melalui seni
  5. Sand Tray Therapy . Terapi yang mengungkap aspek bawah sadar dalam mengatasi trauma dengan menggunakan pasir dan figur-figur sebagai media
  6. Mindfulness Therapy yaitu suatu terapi yang dilakukan untuk berlatih berpikir dan merasakan apa yang terjadi saat ini (being present) dan tidak membiarkan apa yang terjadi di masa lalu. 
  7. Family therapy. Terapi yang melibatkan keluarga untuk menyelesaikan isu kelekatan dan menguatkan dukungan sosial. 
  8. Photovoice therapy. Suatu terapi yang menggunakan media gambar untuk mengungkap apa yang dirasakan dan juga menjadi langkah dalam proses coaching untuk menemukan dan menumbuhkan kekuatan diri.

Terapi-terapi psikologis ini terbukti dapat menolong individu yang memiliki trauma di masa lalu yang mempengaruhi kehidupan masa kini. Terapi ini hadir untuk dapat menjadi jawaban bagi kesulitan yang dialami. Griya Pulih Asih hadir untuk dapat memberikan solusi bagi pribadi yang terluka, membangun diri untuk memiliki keterampilan mengatasi tekanan dan mencapai harapan dalam kehidupan dan melihat terang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *